Cita-cita Pemberdayaan Difabel dan Tim Advokasi Difabel di 7 Kabupaten/Kota

By : joko


Rehabilitasi difabel, biasanya dilaksanakan di dalam isntitusi (panti) oleh ahli-ahli rehabilitasi. Keluarga difabel cukup menyerahkan anggota keluarganya yang menyandang difabilitas ke panti rehabilitasi dan memenuhi persyaratan yang ditentukan dari panti tersebut.  Jenis pelayanan rehabilitasi yang diselenggarakan oleh panti biasanya: rehabilitasi medis, pendidikan, psiko sosial dan vokasional. Setelah selesai menjalani program rehabilitasi di panti kemudian difabel kembali ke keluarganya, hidup bermasyarakat dan mandiri berbekal ilmu yang diperoleh selama di panti tersebut.
Permasalahannya adalah, di masyarakat banyak difabel yang tidak dapat mandiri bahkan tidak dapat membaur dengan masyarakat lingkungannya. Ada banyak alasan yang dapat dikemukakan sebagai penyebab ternjadinya hal tersebut, antara lain: tidak adanya  aksesibilitas di masyarakat tempat difabel itu bermukim,  masyarakat lingkungannya belum memiliki pengertian terhadap permasalahan difabel, difabel yang tidak/belum mampu beradaptasi, adanya faham-faham terhadap difabel/difabilitas yang keliru yang masih dipercaya oleh masyarakat, dan lain sebagainya.  Akibatnya difabel menjadi warga tertinggal alias terpinggirkan. Ada jurang pemisah antara warga difabel dan non difabel di masyarakat.
Visi gerakan RBM adalah masyarakat yang inklusif, yaitu masyarakat yang dapat memenuhi kebutuhan semua warganya, baik difabel maupun non difabel. Oleh karena itu harus diselenggarakan program-program yang: meningkatkan kualitas hidup difabel, mengurangi hambatan (barier) bagi kemajuan difabel, mempersempit jurang pemisah antara difabel dan non difabel dan sebagainya.
Tim Advokasi Difabel
PPRBM dengan sponsor Caritas Germany, mulai tahun 2010, menyelenggarakan program Pemberdayaan Difabel dalam RBM di 7 Kabupaten/Kota se Solo Raya dan Grobogan. Program ini berasumsi bahwa ketertinggalan difabel di masyarakat itu karena hampir semua fasilitas publik, sarana dan prasarana yang diselenggarakan oleh Pemerintah, tidak dapat diakses oleh difabel. Banyak difabel yang tidak punya KTP (Kartu Tanda Penduduk) misalnya, karena difabel tidak dapat mengakses kantor kelurahan, dan kecamatan. Karena tidak punya KTP maka difabel tidak dapat mengakses BLT, Jamkesmas, Jamkesda dan lain-lain.
Tim Advokasi Difabel (TAD) yang dibentuk di 7 Kabupaten/Kota: Boyolali, Grobogan, Karanganyar, Klaten, Sragen, Surakarta dan Wonogiri dengan SK Bupati/Walikota dimaksudkan untuk menjembatani akses difabel ke fasilitas publik yang diselenggarakan oleh Pemerintah.
TAD Karanganyar, beranggotakan 17 orang, dibentuk dengan SK Bupati Karanganyar, No. 461/411/2010, tanggal 5 Juli 2010, ditanda tangani oleh Bupati Hj. RINA IRIANI SR, S.Pd., M.Hum. TAD Sragen, beranggotakan 25 orang dibentuk dengan SK Bupati Sragen No.  460/122/002/2010, tanggal 12 Juli 2010, ditandan tangani oleh Bupati Untung Wiyono. TAD Klaten beranggotakan 22 orang, dibentuk dengan SK Bupati Klaten No. 461/335/2010, tertanggal 29 Juli 2010, ditanda tangani oleh Bupati Sunarno.  TAD Wonogiri, beranggotakan 24 orang, dibentuk dengan SK Bupati No. 290 TAHUN 2010, tertanggal 19 Agustus 2010, ditanda tangani oleh Bupati Wonogiri Begug Poernomosidi. TAD Grobogan, beranggotakan 27 orang, dibentuk dengan SK Bupati  No. 769 TAHUN 2010, tertanggal 15 September 2010, ditanda tangani oleh Bupati Grobogan Bambang Pudjiono. TAD Kabupaten Boyolali, beranggotakan 19 orang,  dibentuk dengan SK Bupati Boyolali No. 460/490/2010, tertanggal 5 November 2010 ditanda tangani oleh Bupati Boyolali Seno Samodro. TAD Surakarta, beranggotakan 22 orang, dibentuk dengan SK Walikota No. 420.05/16/1/2011, tertanggal 17 Maret 2011, ditanda tangani oleh Walikota Surakarta Joko widodo.
Tag : ,

Buku Pedoman RBM Bahasa Indonesia

By : joko



1. Buku Pedoman RBM Buku Pengantar -----> Lihat detail
2. Buku Pedoman RBM Komponen Kesehatan -----> Lihat Detail
3. Buku Pedoman RBM Komponen Pendidikan -----> Lihat detail
4. Buku Pedoman RBM Komponen Penghidupan -------> Lihat detail
5. Buku Pedoman RBM Komponen Sosial -----> Lihat detail
6. Buku Pedoman RBM Komponen Pemberdayaan -----> Lihat Detail 
7. Buku Pedoman RBM Komponen Tambahan -------> Lihat detail
 
Tag : ,

Maria, Dokter Difabel Pengabdi Kaum Pinggiran

By : PPRBM SOLO
Maria, Dokter Difabel Pengabdi Kaum Pinggiran
Meski mengalami keterbatasan, Maria tak gentar dengan kondisinya.

Dr. Maria Retno Setjawati (VIVAnews/Fajar Sodik)

VIVAnews – Belakangan ini dunia medis heboh dengan kasus kriminalisasi dokter Dewa Ayu Swasyari Prawani dari Manado. Belum lagi dengan aksi solidaritas yang dilakukan ribu dokter se-Indonesia untuk mogok melayani pasien. Di tengah hiruk pikuk tersebut, menarik untuk melihat kembali keberadaan dokter sebagai pengabdi masyarakat

Adalah dokter Maria Retno Setjawati dari Solo. Perempuan paruh baya ini kerap dipanggil Dokter Maria. Wanita keturunan Tionghoa ini lahir di Solo tahun 1959 lalu. Maria memilih jalan hidup menjadi dokter. Pilihan itu sepertinya menjadi ‘balas dendam’ akibat penyakit polio yang menyerangnya saat berusia dua tahun.
“Saya ngin menjadi dokter karena melihat waktu dulu banyak yang kena folio. Saya ingin memberikan penyuluhan tentang imunisasi polio. Kenapa saat zaman dulu, masih banyak balita yang belum diuminisasi,“ jelas dia kepada VIVAnews, Kamis malam, 28 November 2013.
Keyakinannnya untuk menjadi dokter pun ditekuninya. Selepas lulus SMA Ursulin Solo, ia mendaftar kuliah di jurusan kedokteran UNS dan Undip. Sayangnya Maria tidak diterima di dua universitas tersebut.
“Kemudian saya mendaftar ke jurusan kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang sembari menunggu pembukaan pendaftaraan penerimaan mahasiswa baru tahun depannya. Teryata kuliah di Unissula sudah nyaman, jadinya saya keterusan kuliah di situ, tak jadi mendaftar lagi di UNS dan Undip,“ ujar Maria yang merupakan mahasiswa angkatan 1981.
Meski mengalami keterbatasan, Maria tak gentar dengan kondisinya. Walhasil ketekunan dan semangat kerja kerasnya membuahkan hasil. Ia menjadi satu di antara tiga mahasiswa yang lulus tercepat di tahun 1988.
“Tuhan sangat sayang sama saya. Karena saya selalu diberkahi orang-orang yang perhatian dengan saya. Makanya saya bisa lulus dengan cepat, meski dalam kondisi difabel,“ ungkapnya.
Usai lulus kuliah, Maria muda mulai terjun ke dalam dunia pengabdian kesehatan kepada masyarakat. Pada tahun 1990 – 1998, ia menjadi Kepala Puskesmas Manahan, Solo. Lantas tahun 1998 – 2008, ia menjadi Kepala Puskesmas Sangkrah. Kemudia tahun 2008 – 2009 kembali menjadi Kepala Puskesmas Manahan dan tahun 2012 sampai sekarang menjabat Kepala Puskesmas Gajahan.
Selama bergelut dalam dunia kesehatan, ternyata Maria lebih sering  bersentuhan dengan kaum pinggiran. Mulai dari masyarakat menengah ke bawah, PSK, para pecandu obat hingga penderita HIV/AIDS. Pada tahun 2008, Maria merintis Puskesamas Manahan menjadi klinik metadon atau kilinik untuk para pecandu obat.
Belum lagi, saat di Puskesmas Sangkrah, ia sering bersentuhan dengan para penderita HIV/AIDS ataupun para PSK. Maklum saat itu, di wilayah tersebut ada lokalisasi Silir.
“Kita sering melakukan tes pemeriksaan kesehatan Infeksi Menular Seksual (IMS), “ tuturnya.
Dedikasi pada kaum pinggiran tak berhenti di situ. Ia  membuka Balai Pengobatan Hati Bunda di Jalan Untung Suropati Nomor 14, Kedunglumbu, Pasar Kliwon, Solo atau tepatnya di sebelah timur jalan utama menuju Keraton Kasunanan Surakarta.
Balai Pengobatan ini didirikannya sejak tahun 1991. Bangunan sederhana di tepi jalan ini menjadi primadona bagi kalangan menengah ke bawah. Saban hari, balai pengobatan ini ramai dengan hiruk pikuk pasien yang ingin memeriksakan kesehatannya.
Pasiennya mulai dari tua, muda hingga Balita. Ditemani 3 karyawannya (administrasi, perawat dan asisten apoteker), Dokter Maria penuh dengan kesabaran untuk memeriksa para pasien tersebut.
Model pelayanan dokter Maria memang berbeda dibandingkan dokter lainnnya. Ia memasang tarif rendah hingga tarif sosial untuk pasiennya. Maklum mayoritas pasien yang datang adalah mereka yang bermata pencaharian sebagai tukang becak, buruh, pedagang kaki lima.
“Ya, kalau ada pasien periksa sama obat cuma bayar Rp15 – Rp25 ribu. Nanti kalau cuma periksa, tanpa obat, ya gratis. Saya itu kasihan melihat para pasien, yang memang mayoritas berasal dari kalangan menengah ke bawah. Bahkan kadang-kadang saya nggak tega untuk menaikkan tarif saat harga obat naik,“ jelasnya.
Dedikasi untuk sosial juga dilakukannya saat ada pasien yang sama sekali tidak membawa uang saat datang untuk periksa. Tak jarang, setiap hari Maria menerima pasien yang sama sekali tak membawa uang. Dia menggratiskan pemeriksaan dan  biaya obat.
“Sering ada pasien mau periksa terus bilang pada saya, nggak bawa uang. Lantas apa saya tega mau menagih si pasien untuk membayar. Lihat pakainnya yang kumal saja, saya nggak tega,“ ujarnya.
Saban hari, pasien dari Maria berkisar 40-50 pasien. Ia mulai buka jam praktek mulai pukul 17-00-22.00 WIB. Tetapi kadang Maria membuka prakteknya hingga menjelang tengah malam.
“Kalau memang masih ada pasien ya, paling nanti tutup di atas jam 22. 00 WIB,“ tutur Maria yang pernah mendapatkan penghargaan dalam perayaan Imlek tahun ini dari Perkumpulan Masyarakat Surakarta, sebuah orgnisasi masyarakat keturunan Tionghoa di Solo, karena dedikasi pengabdian sosial.
Maria bukannya tanpa halangan saat memilih untuk memasang tarif sosial tersebut. Suara sumbang justru dilontarkan oleh para teman seprofesinya yang menganggapnya tarif itu terlalu murah.
“Tapi saya cuek dengan perkataan mereka. Yang penting saya tiap hari bersyukur dan menjalani hidup ini layaknya air yang mengalir,“ ungkapnya dengan penuh senyum. (adi)
Jum’at, 29 November 2013, 10:32 Eko Priliawito, Fajar Sodiq (Solo)
Tag : ,

Tresno (34) penyandang difabilitas melakukan atraksi salto mengunakan sepeda motor roda tiga

By : PPRBM SOLO
Tresno (34) penyandang difabilitas melakukan atraksi salto mengunakan sepeda motor roda tiga saat memperingati Hari Difabel Internasional di Taman Rakyat Slawi, Tegal, Jateng, Selasa (3/12). Aksi tersebut untuk membangkitkan dan membangun semangat juang bagi penyandang Difabel serta menggugah masyarakat agar peduli dan memberikan kesempatan terhadap para penyandang disabilitas dengan kegiatan program pemberdayaan ekonomi sosial dan advokasi difabel. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

Tresno (34) penyandang difabilitas melakukan atraksi salto mengunakan sepeda motor roda tiga saat memperingati Hari Difabel Internasional di Taman Rakyat Slawi, Tegal, Jateng, Selasa (3/12).  Yahoo Indonesia News.
Tag : ,

Herlin Susilowati, Menjaga Kelestarian Wayang Kulit dari atas Kursi Roda

By : PPRBM SOLO
AyoGitaBisa.com – Di awal memulai usahanya, produk wayang karya Herlin Susilowati sempat ditolak pasar. Pemilik toko rata-rata tak percaya, masyarakat bisa menerima produk wayang mini seperti yang ia buat. Tapi Herlin tak mau menyerah. Ia usul agar si pemilik toko mau ambil 50 dulu. Meski enggan, akhirnya si pemilik toko menerima.
“Ternyata langsung ludes dibeli orang. Dia langsung minta supaya dikirim lagi,” kenang Herlin. Malah para pemilik toko itu minta agar suplai produk bisa diperbanyak dan dibuat dalam bentuk paket. “Mereka minta dibuatkan satu set wayang. Tidak bijian. Satu set wayang Pandawa, atau satu set wayang punakawan,” kata Herlin beberapa waktu lalu.
Pada tim ayogitabisa.com ia mengatakan, kini usahanya mulai diterima masyarakat luas. Tidak hanya di lingkup Kabupaten Madiun, tapi sudah seluruh Indonesia. Karena selain menerima order di rumahnya yang berada di Jl Imam Bonjol, Kota Madiun, Jawa Timur, ia juga aktif mempromosikan produknya di jejaring sosial.
Upaya Herlin ini jelas mengundang kekaguman. Selain teguh menjaga tradisi wayang, ia melakukan semua aktifitasnya di atas roda. Ya, sejak usia dua tahun, ia menderita polio. Sehingga sehari-hari, ia lebih banyak duduk di atas kursi roda.
Namun demikian, Herlin tak pernah mengenal kata menyerah. Ia terus berkarya membuat wayang. Mulai dari wayang mini yang menggunakan medium kertas karton, duplex, hingga lukisan wayang di atas kulit kambing. Ukurannya bermacam-macam. Dari yang berukuran 5 centimeter, hingga lukisan wayang untuk hiasan dinding yang ukurannya dua meter.
Secara bisnis, karyanya juga jadi bahan pembicaraan di mana-mana. Nama Herlin diam-diam muncul di beberapa media terkemuka di Indonesia.
Herlin sendiri sebenarnya meneruskan usaha sang ayah. Sanggar Wayang Karya Budaya buatan ayahnya, tumbuh dengan semangat menjaga wayang tradisional agar tetap lestari. Saat ayahnya tak mampu meneruskan karena usia, Herlin pun terpanggil. Dengan sukarela ia meneruskan cita-cita ayahnya.
“Sayang kalau tidak diteruskan,” kata Herlin. Dan sikap ini bukan lahir karena terpaksa. Ia mengaku, sangat mencintai budaya wayang yang adiluhung ini.
Setiap hari, Herlin membuat 5-10 wayang mini. Saat tertentu lagi, ia melukis dan mengukir gambar wayang di atas kulit kambing atau sapi. “Kalau bahan kulit saya sering kerepotan. Kadang kalah cepay dengan perajin sepatu atau tas kulit. Jadi pas dapat ya bisa saya pakai buat menggambar wayang,” katanya.
Kini, konsistensi Herlin berbuah manis. Selain mendapat keuntungan finasial, ia boleh berbangga hati karena karya-karyanya sudah dinikmati warga Amerika Serikat dan Perancis. “Karya saya sering digunakan sebagai souvenir saat ada program pertukaran pelajar. Dan sanggar kami juga beberapa kali digunakan sebagai tempat magang mahasiswa IKIP Madiun,” bangga Herlin.
“Kalau boleh bilang, saya ingin agar wayang tidak dianggap sebagai penghias rumah semata. Tapi wayang adalah warisan leluhur yang wajib kita jaga. Karena di balik wayang, ada pesan-pesan moral yang bisa kita terapkan dalam hidup sehari-hari,” kata Herlin.
[yac]
Tag : ,

Miftahul Khoiriyah, seorang Difabel yang Dirikan Sekolah Gratis

By : PPRBM SOLO

AyoGitaBisa.com –
Semangat Miftahul Khoiriyah untuk mengajar sungguh luar biasa. Ketika keinginannya untuk mengajar seperti guru kebanyakan tidak terpenuhi akibat cacat fisik, ia malah nekad mendirikan sekolah sendiri. Tak tanggung-tanggung, di tengah keterbatasan dana dan tenaga, ia mendirikan SMP Islam gratis untuk anak-anak tidak mampu yang tinggal di lingkungan sekitarnya. Tepatnya, di Desa Beloh, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Lulus dari sarjana pendidikan, saya berniat menjadi guru seperti guru-guru pada umumnya. Tapi setelah melamar ke sana kemari, tak juga saya diterima. Padahal seandainya diterima, sebagai guru honorer pun, saya akan terima dengan senang hati, aku wanita yang akrab dipanggil Bu Mifta oleh murid-muridnya ini.
Idealisme untuk bersosial membangun anak-anak berpendidikan agar menjadi bibit bangsa yang kelak menjadi pemimpin, sangat kuat. Dia tak bicara merah putih atau mengukir langit. Namun, tindakannya lebih hebat dan agung dari siapapun yang cuma berkoar tentang Indonesia lebih baik. Dia berbuat, bukan sekadar bicara.
Mifta mengaku, sebenarnya ia tidak mau berprasangka buruk pada siapapun. Tapi melihat keadaan yang ada, ia menduga bahwa sulitnya dia mendapat kesempatan mengajar meski sekadar honorer kemungkinan besar berhubungan dengan cacat fisik yang dialami: kaki sebelah kiri diamputasi sebatas lutut ke bawah akibat kecelakaan jalan raya yang dialaminya pada Agustus 2005.
Waktu itu ia sedang duduk di kelas 3 setingkat SMA. Karena cacat fisik ini, Miftahul terpaksa jalannya tidak sempurna. Tidak diterima sebagai guru di sekolah-sekolah resmi tidak membuat Miftahul patah arang. Bersama suami, yang juga mendapatkan dukungan dari kedua orangtuanya, Miftahul akhirnya bertekad mendirikan sekolah sendiri.
Suami saya sarjana pendidikan, saya sarjana pendidikan. Tekad ingin mengajar sudah menjadi cita-cita saya sejak dulu. Maka, setelah berembuk dengan suami dan orangtua, akhirnya saya bertekad mendirikan sekolah sendiri, ujar lulusan perguruan tinggi Wisnu Wardhana Malang pada 2011 ini. Niat mendirikan sekolah, apalagi gratis bukan tampak halangan. Selain kendala pendanaan, lingkungan sekitar pada waktu itu juga kurang mendukung.
Miftha sempat ditertawakan orang-orang di lingkungannya. Kata mereka, mendirikan sekolah itu tidak mudah. Harus ada ijin dan yayasan yang menaungi. Tapi, mungkin sudah jalan takdirnya seperti itu, jika yayasan lain ijinnya cukup lama, ijin mendirikan yayasan untuk mendirikan sekolah yang diinginkan Miftha malah tidak terlalu lama. Malah proses pendirian yayasan ini, kata Miftha, tidak mengeluarkan uang.
Setelah ijin mendirikan sekolah didapat, bukan berarti semua bisa berjalan dengan baik. Yang terjadi malah tidak ada orangtua yang mau mendaftarkan anaknya untuk sekolah di SMP Islam gratis ini. Mereka tidak percaya bahwa sekolah ini gratis. Mereka beralasan bahwa sekolah gratis itu hanya awalnya saja, nanti setelah masuk pasti ditarik ini dan itu, jelas Akmad Ruhkan, orangtua Miftahul.
Tak mau menyerah, Mifta bersama suami, orangtuanya, serta beberapa teman akhirnya bergerilya mendatangi rumah-rumah orangtua yang memiliki anak tamatan SD. Pada orang tua murid, mereka mencoba menyakinkan bahwa sekolah ini benar-benar gratis. Mulai dari biaya pendaftaran, uang gedung, SPP, seragam sekolah, buku sekolah, study tour, sampai biaya jika kelak sudah lulus.
Tentu saja, paparan ini tak langsung dipercaya begitu saja. Setelah berjalan hampir setengah tahun, baru banyak yang percaya bahwa sekolah ini memang benar-benar gratis. Dari bergerilya itu, akhirnya sekolah Mifta mendapatkan murid sebanyak 23 anak. Dinas pendidikan setempat, yang sempat mengunjungi sekolah ini mengatakan, untuk sekolah yang baru berdiri, mendapatkan murid sebanyak 23 anak sudah cukup bagus.
Mengapa memilih SMP? Jawab Mifta, sekolah setingkat SD, TK dan PAUD sudah banyak di lingkungannya. Sehingga sekolah SMP gratis yang ia dirikan, menurutnya, merupakan pilihan yang tepat. Apalagi saat itu banyak lulusan SD dan ingin masuk ke SMP terhadang kendala gara-gara biaya.
Mifta mengaku, sekolah yang ia dirikan sekarang bisa gratis sebab ada donator. Jumlahnya memang belum besar, tapi sudah mampu menggerakkan roda pendidikan di SMP ini. Ditambah kehadiran para sukarelawan sebagai guru pengajar juga sangat membantu. Jumlah guru sukarelawan ini mencapai 13 orang. Mereka sanggup menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati, meski tidak digaji. Sekolah ini kurikulumnya tidak jauh berbeda dengan sekolah kebanyakan. Hanya ada tambahan sedikit, yakni pelajaran amaliyah keagamaan selama 15 menit setiap hari, kata Mifta.
Ditambah kegiatan ekstra sekolah, seperti gamelan, karate, bulutangkis, dan kegiatan alam, membuat SMP yang didirikan Mifta siap bersaing dengan sekolah umum lainnya. Ini seperti semangat bahwa, dia lebih besar dari yang dipikirkan siapapun.
[yac]
Tag : ,

Cak Jo, Si Guru Ngaji dari Atas Kursi Roda

By : PPRBM SOLO
Selasa, 26 November 2013 03:20
AyoGitaBisa.com – Kecelakaan pada 2006 itu telah merenggut kedua kaki Sarirejo atau yang biasa dipanggil Cak Jo,. Tak hanya membuat kedua kaki Cak Jo hilang, tapi semangat hidupnya juga nyaris hilang. Selama beberapa bulan, warga Mojokerto, Jawa Timur ini tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyesali diri. Harta benda ludes untuk biaya operasi. Sampai akhirnya kakinya benar-benar habis sebab terpaksa harus diamputasi karena terus mengalami pembusukan.
Yang tersisa seperti yang Mas lihat sekarang ini. Itu semua akibat kecelakaan yang saya alami saat mengendarai sepeda motor dan bertabrakan dengan truk pada 2006 itu, ujarnya.
Setelah kecelakaan itu, Cak Jo tak tahu apa yang harus dilakukan pada hidupnya. Sementara tuntutan memenuhi kebutuhan istri dan anaknya di depan mata. Jangankan untuk menghidupi istri dan anak, untuk dirinya sendiri saja, ia tak tak sanggup.
Saat itu, dia sangat bergantung pada orang lain. Semua kegiatan mulai dari makan, mandi, berpakaian, dan buang hajat hampir tidak bisa ia lakukan sendiri. Kedua orangtuanya yang setia membantunya. Dengan sabar kedua orangtua Cak Jo membantu segalanya. Tidak saja mengurusi Cak Jo, tapi juga mengurusi istri dan anak-anaknya, yang tentu saja membutuhkan biaya untuk melanjutkan hidupnya.
Sampai akhirnya, Cak Jo dipertemukan dengan Sugeng Kaki Palsu, yang pernah ditulis ayogitabisa.com sebelumnya. Setelah bertemu dengan Sugeng Kaki Palsu ini semangat hidup Cak Jo kembali menyala. Ia bahkan bisa memiliki sepeda motor sendiri. Motor khusus hasil modifikasi Cak Jo dibantu Sugeng Si Kaki Palsu.
Sepeda motor tiada duanya ini –karena tidak diproduksi di pabrik–, Cak Jo bisa menjelajah berbagai tempat. Bahkan, daerah Pacet yang cukup tinggi dan jembatan Suramadu yang cukup panjang pernah juga ia datangi.
Kenapa sepeda motor Cak Jo dikatakan tiada duanya, sebab selama ini yang paling banyak adalah sepeda motor roda tiga untuk menyandang cacat kaki. Yang terjadi pada Cak Jo, ia malah memodifikasi sepeda motor yang juga bisa dinaiki kursi roda. Sebab, ia tak mungkin bisa berdiri di atas jok sepeda motor.
Tingkat keamanan sepeda ini untuk pengendaranya bisa dibilang juga cukup aman. Bahkan, di jalan raya umum, ada yang bilang Cak Jo bisa melajukan kendaraannya 60 km/jam.
Kelebihan Cak Jo ternyata tidak hanya itu. Keterbatasan fisik juga tidak membuat Cak Jo ingin selalu bergantung pada orang lain. Dia semakin kreatif mencari nafkah. Bisa memperbaiki kompor gas rusak, merawat burung ocehan dari memberi makan dan minum sampai memandikannya.
Dari servis kompor dan jual-beli burung, dikit-dikit saya bisa mendapatkan penghasilan, ujarnya merendah.
Meski sarat keterbatasan fisik dan ekonomi, Cak Jo masih berperan penting di kampungnya. Ternyata dia juga seorang guru ngaji dengan binaan sekitar lima puluh 50 anak dan orang dewasa. Sekitar sepuluh ibu-ibu rumah tangga juga belajr khusus mengaji pada Cak Jo. Mereka belajar di taman pendidikan quran (TPQ) Cak Jo.
TPQ Cak Jo ini juga bukan TPQ asal-asalan, tapi juga resmi dan terdaftar di Departemen Agama. Namanya TPQ Rondlotul Hidayah, atau Taman Pendidikan Alquran, yang berada di Desa Pekuwon RT 05/03, Kecamatan Bangsal, Mojokerto, Jawa Timur.
Di tengah keterbatasan, Cak Jo juga mempunyai keinginan mendirikan perpustakaan. Sebab itu, ia akan senang jika ada orang yang mau membantu menyerahkan buku-buku kepadanya. Nah, siapa mau membantu buku-buku untuk Cak Jo?
[asa] 
Tag : ,

ASIAN YOUTH PARA GAMES 2013 Target Minim, Indonesia Hanya Incar Satu Emas

By : PPRBM SOLO

para-games
Kontingen Indonesia, yang berkekuatan 19 atlet difabel hanya, berani memasang target minimal saat tampil pada Asian Youth Para Games 2013 di Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu-Rabu (26-20/10/2013). Tim Merah Putih hanya berani mematok satu keping medali emas.
Selama di Negeri Jiran itu, Merah Putih akan mengikuti enam cabang olahraga (cabor), yakni renang, atletik, bulu tangkis, tenis meja, catur dan angkat berat.
Pelepasan kontingen Merah Putih dilakukan Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga, Joko Pekik di Gedung Pusat Pengembangan dan Latihan Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (PPRBM) Colomadu, Rabu (23/10/2013) siang. Belasan atlet difabel yang dikirim ke Malaysia, terdiri atas empat atlet di cabor renang, empat atlet di atletik, tiga atlet di bulu tangkis, empat atlet tenis meja, dua atlet catur dan dua atlet angkat berat.
Selain itu, Indonesia mengirim enam pelatih dan enam ofisial. Bertindak sebagai ketua kontingen Indonesia, yakni Anggiat Sagala. Kegiatan kali ini diikuti 30 negara se-Asia. Usia atlet yang berhak mengikuti kegiatan ini berkisar 15 tahun-20 tahun.
“Pemusatan latihan untuk menghadapi Asian Youth Para Games 2013 ini hanya satu bulan. Makanya, kami hanya mematok target satu medali emas [diharapkan medali emas disumbangkan dari bulu tangkis]. Ini momentum kebangkitan olahraga Indonesia. Kami meminta kepada duta olahraga ini untuk menunjukkan permainan terbaik saat di Malaysia,” kata Joko Pekik, saat ditemui wartawan seusai acara pelepasan.
Presiden National Paralympic Committee (NPC), Senny Marbun, menjelaskan tim Merah Putih mulai berangkat ke Malaysia, Kamis (24/10). Dirinya berharap kepada belasan atlet difabel dapat memberikan prestasi terbaik bagi Indonesia.
“Berikan sesuatu yang fundamental bagi negeri ini. Saat inilah, para atlet difabel harus berbangga diri,” katanya.
Pelatih bulu tangkis kontingen Indonesua, Nur Rahman, mengatakan target cabor bulu tangkis di event kali ini, yakni meraih satu emas dan satu perak.
“Cabor bulu tangkis mengirim tiga atlet difabel, yakni Surya Nugroho asal Karanganyar, Odi Putra asal Malang dan Arya Sadewa asal Jogja. Di bulu tangkis ada satu atlet difabel yang mundur, yakni Winardi asal Riau. Dirinya terpaksa mundur karena harus bekerja di daerahnya. Maklum, Winardi merupakan tulang punggung bagi keluarganya,” katanya.
Rabu, 23 Oktober 2013  solopos.com
Tag : ,

Pesan-pesan Perjuangan Kartini dan potret emansipasi perempuan difabel dewasa ini

By : PPRBM SOLO
Pesan-pesan Perjuangan Kartini dan potret emansipasi perempuan difabel dewasa ini.
Raden Adjeng Kartini adalah seorang dari kalangan bangsawan Jawa (Lahir 21 April 1879), putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
Selama dalam pingitan kartini rajin membaca buku-bukudan menulis surat kepada teman-temankoresponden dari eropa tentang apa yang dia fikirkan. Dari buku- buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Perhatiannya tidak hanya semata-matasoal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum.
Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.
Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya (bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat) mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita. Berkat kegigihan Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.
————————————————————————-
Perempuan Difabel juga bagian dari Kartini Indonesia
Perempuan difabel sebagai bagian dari generasi Kartini Indonesia juga berhak mendapat kesempatan untuk maju dan berkembang, baik secara ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan.

Perempuan difabel juga berhak mendapat perlindungan hukum dan penghormatan hak sipil maupun hak politik oleh Negara.
Dalam hal kesehatan,perempuan difabel juga berhak untuk mendapatkan pelayanan yang ramah difabel, baik akses fisik maupun akses informasi, baik dalam hal kesehatan fisik, kesehatan reproduksi, kesehatan mental dan sosial, maupun persoalan kesehatan yang lain.
Dalam hal pendidikan, perlu adanya dukungan sarana dan prasarana serta sistem dan kebijakan pendidikan yang memikirkan difabel secara utuh dan konsisten oleh Negara dan melibatkan perempuan difabel dalam perencanaannya, agar perempuan difabel tidak tertinggal dalam pengembangan dirinya, agar perempuan difabel juga bisa menjadi perempuan yang dipandang layak untuk menjadi perempuan seutuhnya. Karena masih ada budaya disebagian masyarakat kita yang beranggapan bahwa perempuan difabel itu tidak bisa menjadi perempuan seutuhnya, misalnya; perempuan difabel tidak layak untuk menikah, karena khawatir tidak bisa menjadi seorang istri maupun seorang ibu yang baik, artinya masih kuat pandangan bahwa perempuan difabel tidak mampu berperan di ranah domistik, apalagi di sektor publik.
Dalam hal perlindungan hukum, perempuan difabel juga berhak mendapatkan pemihakan yang jelas dari Negara, karena masih banyak kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan difabel yang tidak tersentuh oleh hukum karena faktor-faktor kedifabilitasannya, seperti kasus pelecehan seksual yang dialami oleh perempuan difabel tunagrahita, perempuan difabel tuna rungu wicara dan masih banyak lagi kasus-kasus kekerasan lainnya yang dialami perempuan difabel yang sampai kini tidak mendapatkan keadilan dan perlindukan hukum.
Dalam hal peningkatan kesejahteraan ekonomi, perempuan difable juga berhak mendapatkan kesempatan kerja, mendapat kesempatan program- program pemberdayaan ekonomi, agar secara martabat ekonominya bisa meningkat.
Dalam pemenuhan semua hak tersebut, Negaralah yang mempunyai peran utama, dan negara harus menjamin implementasinya, Negara mempunyai kewajiban untuk menghormati dan melindungi dan memfasilitasi terwujudnya hak-hak tersebut.
PPRBM SOLO 
Surakarta, 20 April 2013
Tag : ,

- Copyright © PPRBM SOLO - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -